http://www.andiekasakya.blogspot.com/

http://www.andiekasakya.blogspot.com/

http://www.andiekasakya.blogspot.com/

http://www.andiekasakya.blogspot.com/

http://www.andiekasakya.blogspot.com/

Wednesday, December 23, 2015

Kuliah Umum Dr. Andi Eka Sakya, M.Eng "Perubahan Iklim: Kendala atau Tantangan bagi Indonesia 2025"


Dalam rangka memperingati hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April 2015, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian bekerjasama dengan beberapa instansi selalu mengadakan berbagai kegiatan tiap tahunnya. Untuk tahun 2015 kegiatan terdiri dari seminar, seremonial peringatan hari bumi, kuliah umum, olimpiade geografi dan geosains dan olahraga sepeda. 


Pada puncak peringatan tanggal 22 April 2015, dalam sambutannya Ketua Panitia Hari Bumi 2015 Dr. Syamsul Bahri, M.Eng menyampaikan bahwa serangkaian kegiatan selalu diadakan oleh FITB tiap tahunnya dalam rangka memperingati hari bumi dengan tujuan untuk mengajak masyarakat berkontribusi menjaga bumi dari ancaman kerusakan yang semakin serius. Sambutan kemudian disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Alumni dan Komunikasi Dr.Miming Miharja, ST,M.Sc.Eng mewakili Rektor yang tidak bisa hadir. Beliau menyampaikan bahwa ITB memberi perhatian penting dalam menjaga kelestarian bumi.


Acara kemudian dilanjutkan dengan Kuliah Umum yang menghadirkan Kepala BIG (Badan Informasi Geospasial) Dr. Priyadi Kardono, M.Sc dengan judul "Peranan Informasi Geospasial Mendukung Pengelolaan Sumberdaya Alam" Mulai Pukul 09.30 s.d 11.30 WIB. Kemudian pada Pukul 13.00 s.d 15.00 WIB dilanjutkan Kuliah Umum kerjasama Program Studi Sains Kebumian FITB ITB dengan BMKG menghadirkan Kepala BMKG Dr. Andi Eka Sakya, M.Eng dengan judul "Perubahan Iklim: Kendala atau Tantangan bagi Indonesia 2025".


Pada tanggal 24-25 April 2015 diselenggarakan Olimpiade Geografi dan Geosains ITB 2015 tingkat nasional yang diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Kemudian kegiatan lainnya adalah Gowes Bareng Hari Bumi pada tanggal 02 Mei 2015 dengan menempuh rute G.Kasur, Bandung Barat sampai ke Maribaya, Kab Bandung.


video video




Tuesday, December 22, 2015

PESAN LAYANAN MASYARAKAT BMKG


Pesan Layanan Masyarakat BMKG :

video

Indonesia terletak dikawasan tropis;
Tanah subur kaya akan Sumber Daya Alam;
Namun, memiliki potensi bencana alam yang tidak bisa kita hindari;
Mari kenali Cuaca, Iklim dan Gempa Bumi;.

Kami BMKG siap sedia memberikan layanan informasi Cuaca, Iklim dan Gempa Bumi;
Dari unit kerja BMKG di Pusat maupun di Daerah;
Seluruh wilayah Indonesia secara Cepat, Tepat, Akurat, Luas dan Mudah di pahami.


Twitter : @infoBMKG
www.bmkg.go.id

Monday, December 21, 2015

REFLEKSI 2015


Andi Eka Sakya,

Kawan-kawan,
Catatan ini saya tulis pagi ini dalam perjalanan;
di tengah gerimis dan kemacetan;
dari Serpong ke Kemayoran.

Hari ini tradisi baru kita lakukan;
refleksi akhir tahun dalam wujud renungan;
kita bersama duduk di dalam ruangan; 
untuk secara jujur melihat tapak2 perjalanan.

Saya keliru jika dalam 5 tahun ini tidak mengalami kemajuan;
dari kenaikan belanja anggaran hingga fasilitas pendukung pekerjaan;
dari bangunan hingga perbaikan penghasilan;
dari pelaporan aset, kinerja dan hasil pemeriksaan keuangan;.

Apakah integritas dan etika, moralitas dan mentalita, serta budaya kerja tidak terungkit oleh kemajuan?;
atau justru terkikis oleh waktu yang berkejaran?;
kapankah terjawab kemajuan dan kelimpahan mengetuk hati yang dipenuhi rasa syukur dan keikhlasan?;.

Hari ini tradisi baru kita ciptakan;
yang lalu kita renungkan;
yang lewat kita jadikan pelajaran;
memperbaiki proyeksi dan capaian;
mewujudkan cita dalam sebuah perjalanan panjang;
agar melangkah secara lebih berkeyakinan dan berketetapan;
bahwa kita akan mampu menjalankan amanah yang diemban;
memajukan teknologi bangsa ditengah tantangan, godaan, keberingasan dan keserakahan, serta minimnya perhatian.

(AES, 21 Des 2015)




Monday, December 14, 2015

Spesifikasi Alat Harus Sesuai Alam Indonesia



JAKARTA (SK) – Fasilitas deteksi bencana milik Indonesia yang dioperasikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) harus memiliki kekhasan, dengan memperhatikan alam Indonesia.

Hal itu dikemukakan peneliti asal Korea Selatan, Hak Soo Kim, usai kunjungan kerja bersama peneliti lain dari 16 negara ke kantor BMKG, Jakarta, Rabu (9/12).

Dengan demikian, lanjut Hak Soo Kim, kecanggihan alat tersebut tidak bisa dibandingkan dengan milik Korea. Bahkan dengan negara mana pun di dunia.

“Korsel pernah memakai teknologi deteksi bencana, cuaca, dan iklim buatan Jepang. Namun, alat tersebut tidak dapat digunakan secara optimal di Korsel. Teknologi impor itu akhirnya harus dimodifikasi ulang, sesuai dengan karakteristik alam Korea,” ujar Kim yang juga co-Chair of International Organizing Committee/Fellow of Korean Academy of Science and Technology.

Ditambahkan, Indonesia merupakan negara yang sangat luas, tetapi memiliki fasilitas deteksi cuaca, iklim, dan bencana yang memuaskan.

Hal itu perlu dipertahankan guna kemaslahatan masyarakat, terutama informasi tentang kebencanaan.

Sementara itu, Manoj Kumar Patairiya, additional Director General of Broadcasting Corporation in India, mengutarakan, peralatan yang dimiliki BMKG sudah sangat canggih.

“Baru saja ada gempa besar di India. Saya mendapat informasi pertama soal gempa itu dari BMKG. Ini menandakan BMKG punya peralatan canggih,” kata Manoj.

Hak Soo Kim dan Manoj Kumar adalah peserta workshop SHER (Science, Health, Environtment and Risk) yang diselenggarakan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti.

Kepala BMKG, Andi Eka Sakya mengatakan, tingkat akurasi prakiraan cuaca dan iklim oleh lembaganya berada di level 75-80 persen. Data tersebut dinilainya sudah relatif cukup bagus.

“Akurasi prakiraan sebesar 75-80 persen ini sesuai dengan standar World Meteorological Organisation (WMO). Untuk meningkatkan akurasi hingga menjadi 90 persen masih terbilang sulit.

“Kami memiliki 35 radar di seluruh Indonesia. Kami juga dibantu satelit dari Jepang, NASA, Tiongkok, dan Korea. Dengan begitu, ada 179 stasiun dan ribuan pengukur hujan. Semakin rapat ketelitiannya, semakin bagus,” ucapnya.

Indonesia, lanjut Andi sakya, memiliki karakter iklim dan cuaca yang cenderung berbeda dengan negara-negara lain, termasuk negara-negara maju.

“Interaksi lautan di atmosfer kita lebih kompleks dibanding negara daratan, termasuk Kanada, Amerika Serikat, atau Finlandia, yang cenderung dekat dengan utara atau jauh dari khatulistiwa,” katanya. (dwi)




Friday, December 11, 2015

Indonesia-Perancis akhiri kerjasama sistem informasi cuaca



Paris (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Perancis mengakhiri kerja sama pengembangan sistem informasi, terutama peringatan dini cuaca buruk yang telah berlangsung selama tiga tahun antara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Meteo France Internasional atau BMKG-nya Perancis.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Presiden Meteo France, Patrick Benichou di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim di Le Bourget, Paris, Selasa waktu setempat menandatangani nota penutupan proyek kerja sama atau "closing project" tersebut.

Dalam pidatonya, Menlu mengatakan bahwa kerja sama tersebut digagas saat dirinya masih menjabat sebagai Direktur Jendral Eropa dan Amerika di Kementerian Luar Negeri pada 2012.

"Saya berharap, kerja sama ini tidak berakhir di sini, tapi akan ada kerja sama berikutnya yang bermanfaat untuk pengembangan sistem informasi cuaca di Indonesia yang harus beradaptasi dengan perubahan iklim," katanya.

Sementara Presiden Meteo France, Patrick Benichou dalam sambutannya mengatakan bahwa kerja sama yang dibangun antara BMKG dan Meteo France selama 2012 hingga 2015 telah mencatat sejumlah keberhasilan dalam pelayanan informasi cuaca.

"Terutama dalam mengembangkan sistem informasi yang digunakan untuk berbagai sektor, antara lain pertanian, perikanan dan transportasi," katanya.

Layanan informasi yang diberikan antara lain prediksi informasi cuaca harian, prediksi intensitas hujan, informasi titik panas hingga informasi titik api yang mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan.

Selanjutnya di bidang sistem peringatan dini klimatologi, layanan informasi yang tersedia difokuskan pada sistem peringatan dini cuaca buruk atau cuaca ekstrem seperti hujan lebat dan angin kencang.

Sementara Kepala BMKG, Andi Eka Sakya dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa kerja sama antara Meteo France dan BMKG yang terjalin selama tiga tahun sangat penting dalam memodernisasi sistem informasi di BMKG.

"Sistem informasi peringatan dini cuaca buruk ini sangat penting karena angka kecelakaan di Indonesia menyebutkan bahwa 28 persen kecelakaan berkaitan dengan cuaca," katanya.

Ia mengatakan kerja sama tersebut difokuskan pada empat kegiatan yakni membangun 66 titik pengamatan cuaca yang bekerja otomatis, memasang alat di kapal-kapal untuk mengamati cuaca di laut.

Berikutnya, menganalisis dan memproduksi informasi cuaca dan kegiatan keempat adalah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.


Sumber : http://www.antaranews.com/berita/532681/indonesia-perancis-akhiri-kerjasama-sistem-informasi-cuaca | Pewarta: Helti Marini Sipayung | Editor: B Kunto Wibisono | Rabu, 2 Desember 2015 06:05 WIB | COPYRIGHT © ANTARA 2015



Peneliti Korea Akui Kecanggihan Fasilitas BMKG Milik Indonesia


Rimanews - Peneliti asal Korea Selatan, Hak Soo Kim, mengatakan fasilitas deteksi bencana milik Indonesia yang dioperasikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memiliki kekhasan untuk Indonesia sehingga perlu dikembangkan sesuai dengan bentang alamnya.

"Fasilitas milik Indonesia ini memiliki spesifikasi yang sesuai dengan karakteristik alam Indonesia. Dengan begitu, kecanggihannya tidak bisa dibandingkan dengan milik Korea, bahkan dengan negara manapun," kata Kim yang juga co-Chair of International Organizing Committee/Fellow of Korean Academy of Science and Technology saat berkunjung ke Kantor BMKG, Jakarta, Rabu (09/12/2015).

Ia mengatakan bahwa Korsel pernah memakai teknologi deteksi bencana, cuaca, dan iklim buatan Jepang. Akan tetapi, tidak dapat digunakan dengan optimal di Korsel. Teknologi impor itu akhirnya harus dimodifikasi sesuai dengan karakteristik alam Korea.

Menurut dia, Indonesia merupakan negara yang sangat luas, tetapi memiliki fasilitas deteksi cuaca, iklim, dan bencana yang memuaskan. Untuk itu, hal ini perlu dipertahankan guna kemaslahatan masyarakat, terutama informasi tentang kebencanaan.

Sementara itu, Kepala BMKG Andi Eka Sakya mengatakan bahwa tingkat akurasi prakiraan cuaca dan iklim oleh lembaganya ada di level 75--80 persen dan sudah relatif cukup bagus.

Alasannya, kata dia, Indonesia memiliki beragam bentang alam di sekitar khatulistiwa yang terdiri atas lautan dan daratan.

Akurasi prakiraan oleh BMKG sebesar 75--80 persen ini sesuai dengan standar World Meteorological Organisation (WMO). Sementara itu, untuk menjadikan tingkat akurasi menjadi 90 persen terbilang sulit.

"Kami memiliki 35 radar di seluruh Indonesia. Kami juga dibantu satelit dari Jepang, NASA, Tiongkok, dan Korea. Dengan begitu, ada 179 stasiun dan ribuan pengukur hujan. Semakin rapat ketelitiannya, semakin bagus," papar dia.

Indonesia, kata Andi, memiliki karakter iklim dan cuaca yang cenderung berbeda dengan negara-negara lain, termasuk negara-negara maju.

Ia mencontohkan Singapura, Jepang, Amerika Serikat, Kanada, dan Finlandia merupakan negara yang terbilang maju. Kendati demikian, kondisi iklim dan cuaca di negara-negara tersebut memiliki perbedaan yang mencolok dengan Indonesia.

"Indonesia berbeda dengan negara lain, misalnya, dibanding Singapura. Interaksi lautan di atmosfer kita lebih kompleks dibanding negara daratan, termasuk Kanada, Amerika Serikat, atau Finlandia, yang cenderung dekat dengan sangat utara (jauh dari khatulistiwa)," katanya.


Sumber : http://nasional.rimanews.com/peristiwa/read/20151209/249742/Peneliti-Korea-Akui-Kecanggihan-Fasilitas-BMKG-Milik-Indonesia | Editor : Akhmad Kholil | Sumber : Antara | 09 Desember 2015, 23:45.

Pakar Sains dan Komunikasi Dunia Kunjungi BMKG



WARTA KOTA, DEPOK - Sejumlah pakar sains dan komunikasi tingkat dunia dari beberapa lembaga diantaranya Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Association of Academies and Societies of Sciences in Asia (AASSA) serta Korean Academy of Science and Technology (KAST) melakukan kunjungan ke Kantor Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Jakarta pada Kamis (10/12).

Kunjungan ini juga didukung oleh Inter Academy Partnership (IAP) setelah sebelumnya mereka mengadakan lokakarya bertajuk SHER (Science, Health, Environment, and Risk) Communication: Role of S and T Communication in Disaster Management and Community Preparedness di Jakarta.

Kepala BMKG Andi Eka Sakya yang juga menjadi nara sumber pada loka karya tersebut menuturkan kunjungan para pakar sains dan komunikasi tingkat dunia ke BMKG ini sangat penting terutama dalam menerima masukan dari mereka agar BMKG lebih baik lagi dalam mengkomunikasikan iklim dan cuaca ke masyarakat.

Menurutnya fungsi komunikasi sangat penting dalam mengurangi risiko bencana akibat iklim dan cuaca.

"Komunikasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi semakin penting untuk dipahami dan dipraktikkan oleh berbagai kalangan" kata Andi, Jumat (11/12).

Menurutnya komunikasi sains menjadi hal utama dalam mengantisipasi kerugian akibat bencana alam.

"Komunikasi sains ini amat krusial dalam hal bencana baik bencana alam, maupun perbuatan manusia. Komunikasi sains sangat berarti pada sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi," kata Andi.

Saat kunjungan ke kantor BMKG, menurut Andi, para pakar sain dan komunikasi peserta loka karya diajak melihat sistem peringatan dini cuaca, iklim, gempa bumi dan tsunami yang ada di BMKG.

Mereka juga diterangkan bagaimana BMKG melakukan pengamatan, pengelolaan data dan informasi, serta penyebaran peringatan dini dan informasi cuaca, iklim, gempa bumi dan tsunami.

"Dalam hal ini BMKG berperan dalam bidang komunikasi terhadap Informasi Cuaca dan Iklim dengan cara cepat dan mudah dipahami," kata Andi.

Para pakar atau peserta lokakarya yang mengunjungi BMKF tersebut berasal dari 16 negara, di antaranya China, Jepang, Korea, Sri Lanka, India, Rusia, Australia, dan Amerika Serikat.

"Kita juga berharap masukan positif dari pakar atas kunjungan mereka ini," kata Andi.(bum)


Sumber : 



Friday, December 4, 2015

Indonesia Gandeng Prancis dalam Bidang Penguatan Infrastruktur BMKG


Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) RI bekerja sama dengan Badan Meteorologi Prancis dalam penguatan infrastruktur. Infrastruktur yang dimaksud adalah alat pendeteksi cuaca ekstrem.

Kerja sama ini sebenarnya telah berlangsung selama lima tahun lalu dan saat ini sedang dijajaki untuk peningkatan pada sistem dan infrastruktur dari BMKG. Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi saat bertemu Menlu Prancis Laurent Fabius di sela-sela KTT COP21 di Paris, Prancis, Rabu (2/12/2015).

"Kerjasama early warming system for extreme weather dilakukan antara BMKG dan Badan Meteorologi Prancis. Kerja sama berupa penguatan infrastruktur BMKG dan pengembangan kapasitas," kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi kepada detikcom.

"Kerja sama ini juga mencakup antara lain modernisasi fasilitas meteorologi BMKG melalui pembangunan sistem ict, observasi dan sistem produksi terbaru untuk end user," lanjutnya.

Retno juga menambahkan melalui kerja sama ini, BMKG telah berhasil meningkatkan jangkuan jaringan observasi permukaan dan udara. Disamping itu BMKG juga telah memiliki sistem IT dan produksi standar WMO.

Hari ini direncanakan, Retno akan kembali ke Tanah Air usai mengikuti serangkaian acara KTT COP21 sejak tanggal 28 November. Sebelum kembali, Retno menyempatkan bertemu dan beramah tamah dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Prancis di KBRI Paris.

(yds/slm)



Sumber : http://news.detik.com/berita/3085993/indonesia-gandeng-prancis-dalam-bidang-penguatan-infrastruktur-bmkg | Rabu 02 Dec 2015, 14:00 WIB | Yudhistira Amran Saleh – detikNews

Monday, November 30, 2015

Warta Kota : BMKG Wujudkan Indonesia Jadi Poros Maritim Dunia


WARTA KOTA, DEPOK - Indonesia melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi tuan rumah lokakarya perencanaan pelaksanaan Years of the Maritime Continent (YMC) 2017-2019 atau Years of Maritime Continent Implementation Plan Workshop 2017-2019, yang digelar mulai Selasa (24/11/2015) hingga Kamis (26/11/2015).

YMC merupakan kerja sama riset dunia internasional untuk mempelajari interaksi laut dan atmosfer di benua maritim dimana Indonesia adalah salah satu negara maritim yang terbesar.

Ini artinya Indonesia merupakan generator cuaca dunia, atau cuaca di Indonesia sangat mempengaruhi cuaca dunia.

Karenanya dengan lokakarya YMC yang diikuti 27 peserta dari 10 negara di dunia ini, bertujuan memperbaiki prakiraan cuaca dan iklim di benua maritim termasuk Indonesia.

Sebab area dimana Indonesia berada yang tepat di jantung khatulistiwa inilah yang akan mempengaruhi prakiraan cuaca di dunia.

Hal itu dikatakan Kepala BMKG, Dr Andi Eka Sakya di sela-sela Years of Maritime Continent Implementation Plan Workshop, di Kantor BMKG, Rabu (25/11/2015) di Jakarta.

Menurut Andi, kegiatan workshop YMC kali ini adalah yang kedua, dimana merupakan kelanjutan YMC tahun sebelumnya di Singapura.

Yang dibahas dalam YMC kali ini, katanya, mengenai implementation plan atau implementasi rencana, berupa pengajuan proposal riset setiap peserta. Juga termasuk rencana kerjasama antar negara secara internasional dan nasional.

"Kegiatan ini sejalan dengan keinginan pemerintah supaya menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Dari sini kita tingkatkan pemahaman dan prakiraan terhadap perubahan cuaca dan iklim di benua maritim, sekaligus mengetahui dampak perubahan cuaca dan iklim secara global," kata Andi.

Andi menjelaskan kegiatan yang merupakan inisiatif multilateral ini, akan menggunakan peralatan observasi yang dimiliki Indonesia dan institusi dari negara-negara mitra konsorsium YMC.

"Saat ini tercatat ada 11 negara mitra konsorsium YMC," kata Andi.

Yakni Amerika Serikat, Inggris, Australia, Cina, Jepang, Jerman, Filipina, Singapura, Perancis, Taiwan, dan Indonesia.

"Semuanya akan berpartisipasi dengan melibatkan puluhan lembaga penelitian dan universitas dari setiap negara," kata Andi.

Andi menuturkan workshop ini diikuti 27 peserta dari 10 negara yang berasal dari Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Ukraina, Singapura, Filipina, Australia, Jerman, dan Inggris.

BMKG sendiri, kata Andi, mengikutsertakan lembaga penelitian dalam negeri mitra BMKG, diantaranya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), serta sejumlah universitas seperti ITB, IPB, Unsri, dan Unsoed.

"Indonesia aktif dan andil dalam Kegiatan YMC ini, meningat Benua Maritim Indonesia (BMI) merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia. Apalagi posisi cukup sentral dan strategis, karena diapit oleh dua benua yakni Asia dan Australia, serta dua samudera yakni Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Selain itu Indonesia dilalui oleh garis khatulistiwa," kata Andi.

Posisi tersebut, tambah Andi menjadikan Benua Maritim Indoensia, sebagai generator cuaca untuk wilayah Belahan Bumi Utara dan Selatan.

"Sehingga variasi cuaca di BMI memang cukup kompleks," katanya.

Namun demikian, kompleksnya variasi cuaca di BMI, menjadi kendala dan membuat Global Climate Model (GCM) serta Numerical Weather Prediction (NWP) di wilayah Indonesia dianggap kurang maksimal untuk menggambarkan variabilitas cuaca dan iklim yang ada.

"Ini tidak menyurutkan BMKG dalam menjawab tantangan global tersebut. Karenanya diperlukan studi lebih lanjut untuk menjawab tantangan tersebut," kata Andi.

Andi menuturkan dalam menjawab tantangan tersebut, BMKG mengkoordinasikan peneliti nasional seperti, BPPT, KKP, LAPAN, LIPI, BIG, P3GL, Kemenristek Dikti, Kemenkomar dan sejumlah universitas.

"Selain itu bersama dengan peneliti asing dari 14 negara kita sudah melakukan kajian di wilayah Marine Continent meliputi darat, laut dan udara," katanya.


Sumber : http://wartakota.tribunnews.com/2015/11/25/bmkg-wujudkan-indonesia-jadi-poros-maritim-dunia?page=3 |  Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Hertanto Soebijoto.




"Years of the Maritime Continent" untuk Perbaikan Prakiraan Klimatologi



JAKARTA, KOMPAS — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menjadi tuan rumah lokakarya perencanaan pelaksanaan Years of the Maritime Continent (YMC) 2017-2019, Selasa (24/11) hingga Kamis (26/11). YMC merupakan kerja sama riset internasional untuk mempelajari interaksi laut dan atmosfer di benua maritim. Salah satu hasil positifnya adalah bisa memperbaiki prakiraan cuaca dan iklim di area tersebut yang akan memengaruhi prakiraan di dunia.

Benua maritim merujuk pada wilayah yang memiliki area laut luas, antara lain Indonesia, serta Australia, Filipina, hingga selatan India. Bagi Indonesia, kolaborasi riset sangat bermanfaat, antara lain untuk lebih memahami interaksi iklim dan atmosfer bagi kepentingan dalam negeri, terutama pada aktivitas kelautan.

"Ini sejalan dengan keinginan pemerintah menjadikan Indonesia poros maritim dunia," kata Kepala BMKG Andi Eka Sakya di sela-sela Years of Maritime Continent Implementation Plan Workshop, Selasa (24/11) di Jakarta.

Peserta internasional antara lain berasal dari Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Australia, Jerman, dan Inggris. BMKG juga mengajak mitra penelitian dalam negeri, seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), serta sejumlah universitas. Peneliti dari Indonesia dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya.

Andi mengatakan, YMC memiliki beragam manfaat lain bagi Indonesia. Lewat kolaborasi riset tersebut, para peneliti Indonesia mendapat kesempatan peningkatan kapasitas. Indonesia dan mitra riset juga bisa memperbaiki sistem peringatan dini berbasis risiko yang terkait dengan iklim, laut, dan atmosfer, misalnya mengetahui kondisi abu yang telontar dari gunung meletus. Selain itu, Andi berharap YMC terintegrasi dalam agenda penelitian nasional Indonesia.


Indonesia strategis

Benua Maritim Indonesia (BMI) merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dan memiliki posisi strategis karena diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) serta dua samudra (Hindia dan Pasifik). Garis Khatulistiwa juga melintasi area ini. Itu membuat BMI menjadi generator cuaca untuk wilayah belahan bumi utara ataupun selatan.

Posisi strategis tersebut membuat BMI menjadi wilayah yang mengalami berbagai variasi cuaca khas daerah tropis. Variasi cuaca skala regional antara lain Madden Julian Oscillation (MJO) yakni fluktuasi musiman atau gelombang atmosfer yang terjadi di kawasan tropik, Dipole Mode (DM) atau interaksi laut- atmosfer di Samudra Hindia yang dihitung dari perbedaan nilai (selisih) antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika dan perairan di sebelah barat Sumatera, Quasi Biennial Oscillation (QBO) juga Tropospheric Biennial Oscillation (TBO) yang merupakan contoh bentuk variasi antar-tahunan elemen iklim yang berdampak global dalam sistem iklim planet bumi, serta Monsun yakni pola sirkulasi angin yang berembus secara periodik pada suatu periode (minimal 3 bulan) dan pada periode yang lain polanya akan berlawanan. Di Indonesia dikenal Monsun Asia dan Monsun Australia.

Untuk skala global, terdapat fenomena El Nino, yakni fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai memanasnya suhu muka laut di ekuator pasifik timur atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya). Fenomena ini menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang.

Selain itu, ada juga Indonesia Through Flow (ITF), sirkulasi arus laut yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik. Sirkulasi tersebut tidak hanya penting bagi dua samudra tadi, tetapi juga bagi Samudra Atlantik.

Dengan kompleksitas fenomena cuaca dan iklim tersebut, Global Climate Model dan Numerical Weather Prediction di wilayah Indonesia dianggap kurang maksimal guna menggambarkan variabilitas cuaca dan iklim yang ada. Dengan demikian, studi lebih lanjut, termasuk yang akan diimplementasikan dalam YMC, sangat penting.

Director Department of Coupled Ocean-Atmosphered-Land Processes Research Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC) Kunio Yoneyama menuturkan, jumlah negara yang terlibat dalam YMC terus meningkat. "Saat ini sudah ada 20 negara yang ikut serta dalam riset," ujarnya.


Chidong Zhang dari Universitas Miami, Amerika Serikat, mengatakan, benua maritim merupakan lokasi pusat pergerakan di atmosfer dunia. "Apa yang terjadi di benua maritim akan dirasakan di wilayah lain yang ribuan mil jauhnya," katanya.

Sumber : http://print.kompas.com/baca/2015/11/24/Years-of-the-Maritime-Continent-untuk-Perbaikan-Pr | Oleh : J GALUH BIMANTARA | 24 November 2015 13:29 WIB.




Buana News : BMKG Siap Jadikan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia



Jakarta BuanaNews - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi tuan rumah lokakarya perencanaan pelaksanaan Years of the Maritime Continent (YMC) 2017-2019, Selasa (24/11) hingga Kamis (26/11).

YMC merupakan kerja sama riset internasional untuk mempelajari interaksi laut dan atmosfer di benua maritim. Salah satu hasil positifnya adalah bisa memperbaiki prakiraan cuaca dan iklim di area tersebut yang akan memengaruhi prakiraan cuaca di dunia.

Kegiatan Workshop yang kedua kali ini, merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yang dilaksanakan di Singapura, dan kali ini yang akan dibahas yaitu mengenai  implementation plan berupa pengajuan proposal riset setiap peserta, dan kerjasama antar Internasional dan nasional.

Kepala BMKG, Dr. Adi Eka Sakya menuturkan bahwa kegiatan  Ini sejalan dengan keinginan pemerintah supaya menjadikan Indonesia sebagai  poros maritim dunia.

“Diharapkan melalui kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman dan prakiraan terhadap perubahan cuaca dan iklim di benua maritim dan sekaligus untuk mengetahui dampak perubahan secara global”. kata Andi Eka Sakya di sela-sela Years of Maritime Continent Implementation Plan Workshop, Selasa (24/11) di Jakarta.

Pada kegiatan inisiatif multilateral ini akan menggunakan peralatan observasi yang dimiliki Indonesia dan institusi dari negara-negara mitra konsorsium YMC.

"Saat ini tercatat 11  negara termasuk  Australia, Cina, Jepang, Jerman, Filipina, Singapura, Amerika, Inggris, Perancis, Taiwan, dan Indonesia akan berpatisipasi dengan melibatkan puluhan lembaga penelitian dan universitas" Terang Andi.

Workshop ini diikuti oleh 27 peserta dari 10 negara yang berasal dari Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Ukraina, Singapura, Philiphine, Australia, Jerman, dan Inggris. BMKG sendiri mengajak mitra penelitian dalam negeri, seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), serta sejumlah universitas seperti ITB, IPB, Unsri, dan Unsoed.

"Indonesia andil dalam Kegiatan YMC dikarenakan meningat Benua Maritim Indonesia (BMI) merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak pada posisi strategis, diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Hindia dan Pasifik) serta dilalui oleh garis khatulistiwa" ujar Andi menjelaskan.

Lebih lanjut Andi menjelaskan, posisi tersebut menjadikan BMI sebagai generator cuaca untuk wilayah Belahan Bumi Utara maupun Selatan.

Namun demikian, kompleksnya variasi cuaca yang terjadi di BMI, membuat Global Climate Model (GCM) dan Numerical Weather Prediction (NWP) diwilayah Indonesia dianggap kurang maksimal untuk menggambarkan variabilitas cuaca dan iklim yang ada.

Hal ini tidak menyurutkan nyali BMKG dalam menjawab tantangan global tersebut"Oleh karena itu diperlukan studi lebih lanjut untuk menjawab tantangan tersebut. Demi menjawab tantangan tersebut, maka BMKG mengkoordinasikan peneliti nasional seperti, BPPT, KKP, LAPAN, LIPI, BIG, P3GL, Kemenristek Dikti, Kemenkomar dan Universitas" tegas Andi.

"Bersama dengan peneliti asing dari 14 negara melakukan kajian di wilayah Marine Continent meliputi darat, laut dan udara" lanjutnya menegaskan.(BRA)


Sumber : http://www.buana-news.com/2015/11/bmkg-siap-jadikan-indonesia-sebagai.html?m=1 | Posted by : Redaksi Buana News | Date : 14.32 | Labels : nusantara.



Persiapan Final DELRI Bidang Iklim Kelautan Untuk COP 21 Paris



(Jakarta - 27/11/2015). Bertempat di Ruang Rapat Kepala BMKG di Kemayoran, usai makan siang bersama, berlangsung rapat persiapan akhir materi yang akan dibawakan oleh Delegasi Republik Indonesia (DELRI). Menteri Kelautan dan Perikanan, melalui surat resminya kepada panitia Ocean Day COP 21 Paris, menunjuk Staf Ahli Menteri KKP, Dr. Ir. Achmad Poernomo, M.App.Sc. bersama Kepala Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika, Dr. Andi Eka Sakya, M.Sc untuk menyuarakan kontribusi Indonesia dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim di bidang kelautan dan perikanan serta pemantauan iklim-laut.

DELRI yang akan terbang minggu malam (29/11/2015) akan membagi tugas pemaparan di beberapa side event di COP 21 tersebut. Hadir pula dari P3SDLP selaku tim penyiapan materi tersebut, Dr. Budi Sulistiyo (Kepala P3SDLP), Dr. Anastasia Tisiana (Ketua Kelompok Litbang Kebijakan Perubahan Iklim), dan Dr. Widodo Pranowo (Kepala Bidang Pelayanan Teknis). Anggota DELRI yang turut hadir pada rapat persiapan tersebut adalah Dr. Agus Darmawan (Direktur Konservasi Kelautan dan Jenis Ikan KKP), Dr. Nani Hendiarti (Salah satu Asdep di Kemenko Maritim), dan Ir. Nurhayati, M.Sc (Kepala Pusat Iklim Maritim BMKG).

Materi yang akan disampaikan nanti berkisar pada isu kerentanan pesisir dan pulau-pulau kecil akibat kenaikan muka air laut, variabilitas produksi perikanan terkait dengan iklim-laut, bencana hidro-meteorologi akibat iklim ekstrim, dan langkah adaptasi melalui potensi karbon biru. Materi tersebut, bagaimanapun, mempunyai keeratan hubungan dengan materi Ekonomi Biru dan Konsep Pembangunan Dengan Memanfaatkan Sumberdaya Alam yang Terbaharukan dan Keberlanjutan yang akan disampaikan oleh Presiden Joko Widodo pada 30 November 2015 di COP 21 Paris.





Media Indonesia : BMKG Siap Jadikan Indonesia Poros Maritim Dunia



BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi tuan rumah lokakarya perencanaan pelaksanaan Years of the Maritime Continent (YMC) 2017-2019, Selasa (24/11) hingga Kamis (26/11). YMC merupakan kerja sama riset internasional untuk mempelajari interaksi laut dan atmosfer di benua maritim. Salah satu hasil positifnya adalah bisa memperbaiki prakiraan cuaca dan iklim di area tersebut yang akan memengaruhi prakiraan cuaca di dunia.

Kegiatan Workshop yang kedua kali ini, merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yang dilaksanakan di Singapura, dan kali ini yang akan dibahas yaitu mengenai  implementation plan berupa pengajuan proposal riset setiap peserta, dan kerjasama antar Internasional dan nasional. Kepala BMKG Adi Eka Sakya menuturkan bahwa kegiatan ini sejalan dengan keinginan pemerintah supaya menjadikan Indonesia sebagai  poros maritim dunia.

"Diharapkan melalui kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman dan prakiraan terhadap perubahan cuaca dan iklim di benua maritim dan sekaligus untuk mengetahui dampak perubahan secara global". kata Andi Eka Sakya di sela-sela Years of Maritime Continent Implementation Plan Workshop, Selasa (24/11) di Jakarta. Pada kegiatan inisiatif multilateral ini akan menggunakan peralatan observasi yang dimiliki Indonesia dan institusi dari negara-negara mitra konsorsium YMC. "Saat ini tercatat 11  negara termasuk  Australia, Cina, Jepang, Jerman, Filipina, Singapura, Amerika, Inggris, Perancis, Taiwan, dan Indonesia akan berpatisipasi dengan melibatkan puluhan lembaga penelitian dan universitas" Terang Andi.

Workshop ini diikuti oleh 27 peserta dari 10 negara yang berasal dari Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Ukraina, Singapura, Philiphine, Australia, Jerman, dan Inggris. BMKG sendiri mengajak mitra penelitian dalam negeri, seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), serta sejumlah universitas seperti ITB, IPB, Unsri, dan Unsoed.

"Indonesia andil dalam Kegiatan YMC dikarenakan meningat Benua Maritim Indonesia (BMI) merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak pada posisi strategis, diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Hindia dan Pasifik) serta dilalui oleh garis khatulistiwa" ujar Andi menjelaskan.  "Posisi tersebut menjadikan BMI sebagai generator cuaca untuk wilayah Belahan Bumi Utara maupun Selatan" lanjutnya.

Namun demikian, kompleksnya variasi cuaca yang terjadi di BMI, membuat Global Climate Model (GCM) dan Numerical Weather Prediction (NWP) diwilayah Indonesia dianggap kurang maksimal untuk menggambarkan variabilitas cuaca dan iklim yang ada. Hal ini tidak menyurutkan nyali BMKG dalam menjawab tantangan global tersebut"Oleh karena itu diperlukan studi lebih lanjut untuk menjawab tantangan tersebut. Demi menjawab tantangan tersebut, maka BMKG mengkoordinasikan peneliti nasional seperti, BPPT, KKP, LAPAN, LIPI, BIG, P3GL, Kemenristek Dikti, Kemenkomar dan Universitas" tegas Andi.  "bersama dengan peneliti asing dari 14 negara melakukan kajian di wilayah Marine Continent meliputi darat, laut dan udara" lanjutnya menegaskan.


Sumber : http://mediaindonesia.com/misiang/read/4594/BMG-Siap-Jadikan-Indonesia-Poros-Maritim-Dunia/2015/11/25 | Rabu, 25 November 2015 | Penulis: Nurul Fadillah | Doc. Media Indonesia



BMKG Kirim Tim Peneliti ke Antartika-Puncak Jaya


indopos.co.id –  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengirimkan enam penelitinya ke Antartika dan Puncak Jaya, Papua. Tujuannya untuk memahami pengaruh laut terhadap kondisi iklim dan cuaca Indonesia.

Kepala BMKG Andi Eka Sakya mengatakan, Indonesia merupakan negara maritim terbesar di dunia. Lebih dari 70 persen wilayahnya merupakan wilayah lautan. Iklim di Indonesia sangat dipengaruhi oleh sirkulasi monsoon panas Autralia yang terjadi pada April hingga September dan sirkulasi monsoon dingin Asia yang terjadi pada Oktober hingga Maret. ”Ini menyebabkan pemahaman terhadap kondisi laut menjadi sangat penting, mengingat Indonesia dipengaruhi oleh Samudera Pasifik dan Hindia,” ujarnya.

Dua peneliti BMKG, Wido Hanggoro dan Kadarsah, kemarin melakukan pelayaran menggunakan kapal riset ke Stasiun Meteorologi Davis di Kutub Selatan. Mereka bergabung bersama dengan Tim Ekspedisi Bureau of Meteorology (BoM) –Australian Antarctic Division (AAD). Dalam perjalanannya, tim tersebut akan mengumpulkan dan menganalisis data kondisi laut menggunakan berbagai alat dan data observasi. ”Simulasi model meteorologi resolusi tinggi dan pengamatan udara atas menggunakan Light Detection and Ranging (LIDAR) akan difokuskan di Stasiun Meteorologi Davies,” ujar Andi.

Bersamaan dengan dua peneliti tersebut, BMKG juga memberangkatkan empat peneliti lainnya yakni, Dyah Lukita Sari, Ferdika A. Harapak, Najib Habibie, dan Donny Kristianto ke Puncak Jaya Papua. Tim melakukan ekspedisi penelitian untuk memahami dampak pemanasan global di wilayah khatulistiwa. ”Penelitian ini merupakan kerja sama BMKG dengan Ohio University, Colombia University dan Freeport yang dilakukan untuk ketiga kalinya sejak 2010,” ujar Andi.

Rangkaian ekspedisi penelitian tersebut merupakan program penelitian dan sekaligus menjadi “batu-tapak” kontribusi Indonesia terhadap pemahaman dinamika iklim secara global. Posisi strategis geografi Indonesia menjadi kunci pemahaman dinamika iklim dan perubahannya. Langkah kebijakan ini juga menjadi bagian dari keberpihakan BMKG dalam bidang penelitian dalam mendukung upaya peningkatan pelayanan meteorologi, klimatologi dan geofisika, serta peningkatan SDM Indonesia.

Andi berharap hasil penelitian dari kedua ekpedisi tersebut akan menjadi sumbangan yang sangat berharga secara global. Hasilnya diharapkan memberikan pemahaman hubungan telekoneksi iklim antara wilayah tropis dengan antartika. ”Kedua ekspedisi tersebut merupakan masukan berharga bagi rangkaian penelitian 2017–2019. Pada 2017–2019 merupakan Tahun Benua Maritim atau Year of Maritime Continent (YMC) dan Year of Polar Initiative (YPI) di Antartika,” ujarnya.

Untuk itu, sebelum pelaksanaan kedua ekspedisi tersebut, BMKG melakukan program terkait kemaritiman di antaranya melalui kerja sama BMKG, BPPT dan NOAA-USA, dalam Indonesia Program Initiative on Maritime Observation and Analysis (Indonesia Prima) berupa ekspedisi pelayaran ke Samudera Hindia dengan memanfaatkan Kapal Baruna Jaya I pada 16 April–15 Mei 2015. (dni)